Sabtu 08 Nopember 2014

Tari Perang

17 Juni 2014 12:22:39 Humas Frans Kai
Dibaca : 727 kali

Tari Perang adalah salah satu nama tarian yang berasal dariPapua Barat. Tarian ini melambangkan kepahlawanan dan kegagahan rakyat Papua.Tarian ini biasanya dibawakan oleh masyarakat pegunungan. Digelar ketika kepalasuku memerintahkan untuk berperang, karena tarian ini mampu mengobarkansemangat.

Papua adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki jumlah keragamanadat, suku dan budaya yang terbanyak. Dari hasil pengumpulan data oleh tim yangdibentuk kepala Dinas Kebudayaan dan Provinsi Papua dan setelah di seleksi danditetapkan melalui seminar yang melibatkan tokoh Adat, tokoh Agama, tokohPerempuan, tokoh Pemuda dan tokoh Masyarakat mewakili 7 wilayah adat yaitu:Wilayah Adat Mamta, Wilayah Adat Saireri, Wilayah Adat Bomberai, Wilayah AdatDomberai, Wilayah Adat Ha-Anim, Wilayah Adat La-Pago, Wilayah Adat Mi-Pago,ternyata sebanyak 248 suku. Penetapan jumlah 248 suku asli ini merupakan datainformasi sementara dan terbaru.

Dari keragaman jumlah ini, kita bisa membayangkan betapa kaya akan sumberpenelitian bagi para akademisi antropologi, budayawan, seniman dll. Dalam duniaseni pertunjukan, perkembangan tari di Indonesia berhubungan erat denganperkembangan masyarakat. James R. Brandon (1967) membagi perkembanganpertunjukan di Asia Tenggara dapat dibagi menjadi 4 periode yaitu: Periode pra-sejarah,sekitar 2500SM-100M. Periode masuknya kebudayaan India, 100-1000. Periodemasuknya pengaruh Islam, 1300-1750. Periode masuknya negara barat, 1750-akhirperang dunia ke-2.

Dilihat dari segi antropologi budaya di Papua, dan analisis perkembangan senitari di Asia Tenggara, Tari Perang dari masyarakat Papua Barat ini mengarahpada karya seni pertunjukkan periode prasejarah. Masyarakat Papua, hingga hariini tetap menjaga dan melestarikan tarian ini sebagai bentuk penghormatanterhadap nenek moyang dan harga diri sebuah bangsa atau suku. Hal inimenunjukkan bahwa perkembangan masyarakat dan keseniannya tidak merupakanperkembangan yang terputus satu sama lain, melainkan saling berkesinambungan.Mereka percaya bahwa sejak dahulu nenek moyang masyarakat Papua selaluberharap, bahwa budaya yang telah diwariskan kepada setiap generasi tidakluntur, tidak tenggelam dan tidak terkubur oleh berbagai perkembangan zamanyang kian hari kian bertambah maju. Seperti halnya budaya tarian-tarian yangtelah mereka ciptakan dengan berbagai gelombang kesulitan, kesusahan dankeresahan tidak secepat dilupakan oleh generasi berikutnya.

Banyak catatan yang mengisahkan peperangan antar suku di Papua pada jamanpra-sejarah, seperti tarian perang Velabhea, yaitutarian yang mengisahkan perang suku di Sentani. Masyarakat Papua menggunakantarian perang untuk memberi dorongan spiritual dalam menghadapi peperang. Namunseiring perkembangan zaman dan peraturan pemerintah yang melarang keras adanyapeperangan antar suku, tarian ini kini hanya menjadi tarian penyambut tamuundangan.

Tarian perang Papua ini termasuk dalam tarian grup, ataubahkan bisa menjadi tarian kolosal. Karena tidak ada batasan jumlah penari.Seperti umumnya tarian di Papua, tarian perang pun diringi tifa dan alat musiklainnya, yang menjadi pembeda adalah lantunan lagu-lagu perang pembangkitsemangat. Dengan mengenakan busana tradisional, seperti manik-manik penghiasdada, rok yang terbuat dari akar, dan daun-daun yang disisipkan pada tubuhmenjadi bukti kecintaan masyarakat Papua pada alam.(adi/berbagaisumber)


Bagikan halaman ini :


PANDUAN PENUMPANG

INFORMASI LELANG